Beranda » Blog » Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Diposting pada 25 November 2023 oleh admin / Dilihat: 541 kali / Kategori:
Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Pengecoran beton merupakan tahap krusial dalam proses konstruksi, dan penggunaan Concrete Pump telah menjadi pilihan populer untuk memastikan efisiensi dan akurasi. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara detail prosedur pelaksanaan pengecoran menggunakan Concrete Pump untuk memastikan kelancaran setiap proyek konstruksi.

Sebetulnya hal ini juga ditentukan dalam SOP masing-masing perusahaan pengelolanya dan secara tipikal yang akan Kami jelaskan pada laman ini. Namun sebelum itu, simak terlebih dahulu defenisi conctrete pump agar anda lebih faham.

2 Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Pengertian Concrete Pump

Concrete pump adalah alat yang digunakan untuk mendorong hasil cairan beton yang sudah diolah dari mixer truck. Alat ini terbagi menjadi 3 bagian penting, yaitu :

  1. Trailer, bagian ini merupakan bagian utama dan terpenting dari concrete pump karena berfungsi untuk membawa boom pump dan line pump.
  2. Boom pump, terdiri dari truk dan kerangka penyangga. Bagian ini digunakan untuk menuangkan beton ke cetakan yang siap untuk di cor, dimana biasanya cetakan ini berada diposisi yang tinggi.
  3. Line Pump, merupakan pipa penyaluran pada saat beton dipompa. Alat ini tidak hanya untuk mengalirkan beton tapi juga bisa memompa jenis material lain seperti semen, kapur ataupun mortar.

Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Concrete Pump tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan hasil yang presisi dan berkualitas. Pastikan untuk selalu mengikuti standar keselamatan dan panduan produsen selama seluruh proses pengecoran untuk mencapai hasil terbaik.

Dengan mengikuti prosedur pelaksanaan pengecoran menggunakan Concrete Pump secara teliti, Anda dapat memastikan keberhasilan proyek konstruksi Anda. Berikut diantara teknik pelaksanaan pengecoran menggunakan pompa beton (concrete pump) :

Persiapan Awal

  1. Lahan konstruksi bangunan yang akan dicor beton segar disiapkan oleh pelaksana pekerjaan beton / pengecoran sesuai dengan jadwal pelaksanaan proyek, meliputi pemasangan bekisting (form-work) dengan bracing, support dan penguatnya, pemasangan besi beton serta pekerjaan pendukung lain yang menyertainya.
  2. Setelah penyiapan lahan tersebut selesai dikerjakan maka akan diperiksa lebih dahulu oleh pihak owner untuk dapat disetujui dan dapat diteruskan dengan pekerjaan pengecoran beton segar.
  3. Apabila penyiapan lahan telah disetujui oleh owner dan dapat diteruskan dengan pengecoran beton segar maka pelaksana pengecoran akan berkoordinasi dengan operator concrete pump untuk pengaturan pengoperasian concrete pump meliputi : Penempatan posisi concrete pump, Rencana jalur perpipaan menuju tempat pengecoran, Tenaga bantuan untuk media komunikasi antara operator concrete pump dengan lokasi pengecoran bila operator tidak dapat melihat secara langsung kegiatan pengecoran beton diujung pipa.

Koordinasi Dengan Kru Concrete Pump

Pada pelaksanaan pemompaan beton operator pompa beton dibantu beberapa orang pembantu operator/helper dimana harus dapat bekerjasama dan berkoordinasi dengan baik agar pelaksanaan pemompaan beton segar dapat berjalan lancar.

Personil Pelaksana Pengecoran Beton

Pada saat pemompaan beton segar pelaksana pengecoran akan menunjuk seorang personil/mandor yang akan berkoordinasi dengan operator pompa beton dalam hal :

  1. Tempat pembuangan mortar untuk priming/pelumasan pipa penyalur beton.
  2. Urutan tahap pemompaan dari pompa beton ke tempat pengecoran.
  3. Pemberhentian sementara karena ada perbaikan lahan pengecoran.
  4. Pemindahan pipa lapangan.
  5. Tempat pencucian pompa beton setelah pemompaan beton segar selesai dilaksanakan.
  6. Pemindahan unit pompa beton ke lokasi lain.
  7. Hal-hal lain yang perlu dikomunikasikan.

Komunikasi Dengan Pelaksana Pengecoran Beton

Agar tidak terjadi kesimpang siuran atau mis-komunikasi maka saat berlangsungnya pemompaan beton segar operator hanya berkomunikasi dengan 1 orang saja (yang ditunjuk dan diberi wewenang oleh pelaksana pengecoran).

Namun demikian bila operator tidak dapat berhubungan langsung karena hambatan jarak atau terhalang bangunan, komunikasi harus dibantu dengan alat komunkasi radio atau bahasa isyarat. Dibawah ini adalah contoh bahasa isyarat untuk pekerjaan pemompaan beton yang digunakan oleh ACPA (American Concrete Pump Assosiation).

Bahasa isyarat pemompaan beton segar

Bahasa isyarat pemompaan beton segar

  • 1. Boom naik
  • 2. Turun
  • 3. Boom kiri
  • 4. Boom kanan
  • 5. Buka atau perpanjang boom
  • 6. Tutup atau perpendek boom
  • 7. Boom berhenti
  • 8. Mulai pompa dipercepat
  • 9. Perlambat pompa
  • 10. Berhentikan pompa
  • 11. Gerakkan sedikit
  • 12. Tambahkan air
  • 13. Selesai dan bersihkan

Pengoperasian Concrete Pump

a. Kesiapan Beton Segar

Pengoperasian pemompaan beton dimulai setelah beton segar yang diangkut dengan truck mixer sampai dilokasi pemompaan dan dilakukan serah terima dengan teknisi laboratorium.

b. Mutu Beton

Teknisi laboratorium akan melakukan tugas pengendalian mutu dengan melakukan beberapa hal antara lain pengambilan sampel untuk diuji dilaboratorium, pengukuran slump beton segar dan mengidentifikasi tiket pengiriman dari batching plant.

c. Pengendalian Pemompaan Beton

  1. Memastikan bahwa teknisi laboratorium telah selesai melakukan tugasnya.
  2. Memastikan bahwa operator truck mixer telah melakukan pencampuran dalam drum mixer sesuai dengan prosedur.
  3. Lalu memastikan bahwa pipa penyalur beton sudah dilakukan pelumasan sesuai prosedur.
  4. Memastikan distributor boom sudah diarahkan ke posisi akhir pemompaan beton sesuai prosedur.
  5. Pengoperasian agitator hopper dimulai dengan mengaktifkan tuas kendali, agitator hopper siap menerima beton segar dari truck mixer.
  6. Operator truck mixer menggerakkan mundur alatnya hingga talangnya tepat pada posisi menuangkan beton segar ke agitator hopper pompa beton.
  7. Operator truck mixer menuangkan beton segar ke agitator hopper melalui talang dengan memutar balik arah putaran mixernya.
  8. Agitator hopper yang sudah diaktifkan mulai terisi oleh beton segar sambil mengaduk dengan blade mixernya.
  9. Setelah agitator hopper terisi dengan beton segar, tuas kendali pompa mulai diaktifkan dengan menekan tuas kendali, mulai saat itu kegiatan pemompaan beton telah dimulai.
  10. Awali pemompaan beton segar dengan volume rendah sampai medium pada RPM minimum selanjutnya ditingkatkan secara bertahap.
  11. Penuangan beton segar ke agitator hopper dilakukan secara bertahap sesuai dengan kapasitas hopper dan kecepatan pemompaan beton segar oleh pompa beton. Untuk ini harus ada koordinasi yang baik antara operator truck mixer dengan operator pompa beton.
  12. Setelah beton segar dalam truck mixer habis dituangkan kedalam agitator truck dan dipompa ke tempat pengecoran, langkah kerja yang sama diteruskan dengan pengiriman beton segar pada truck mixer selanjutnya.

attention :

Distributor boom hanya boleh dioperasikan bila kecepatan angin dibawah 48 Mph (77 km/jam). Hentikan pengo-perasian jika kecepatan angin melebihi angka tersebut.

d. Putaran Balik (reverse rotation)

Apabila dalam pemompaan beton terjadi hambatan buntu maka operator pompa beton harus mengatasi dengan melakukan gerakan hisap (reverse).

  1. Apabila terjadi kebuntuan dalam pemompaan beton maka gerakan piston akan berhenti dan untuk mengatasinya lakukan langkah reverse atau menghisap.
  2. Langkah reverse dilakukan dengan menekan tuas kendali hingga piston bergerak 4 sampai 5 langkah.

e. Pemompaan Kembali Beton Segar

1) Setelah melakukan reverse 4 sampai 5 kali, tuas kendali ditekan kekanan untuk memulai pengoperasian yang normal (pemompaan).

2) Langkah tersebut diatas pada umumnya dapat mengatasi kebuntuan dan pemompaan dapat berjalan normal kembali.

3) Apabila belum teratasi ulangi lagi gerakan reverse dengan langkah kerja yang sama dan dengan memukul-mukulkan palu kearah pipa yang buntu untuk melepaskan kebuntuan.

4) Apabila dengan langkah 3) juga tidak teratasi maka operator harus segera mengambil langkah untuk :

  • Melaporkan kerusakan alat kepada pelaksana pengecoran beton.
  • Melaporkan kepada atasan langsung (bagian peralatan atau perusahaan pemilik concrete pump).
  • Setelah melapor, usahakan untuk bisa memperbaiki sendiri kerusakan tersebut dalam waktu yang singkat/ cepat. Bila tidak dapat memperbaiki dengan sepat, maka selanjutnya adalah:
  • Bersihkan beton segar yang ada di pipa.
  • Bersihkan concrete pump.

f. Laporan kepada pihak terkait

Apabila dalam usaha menangani kebuntuan pemompaan beton, operator tidak berhasil memperbaiki sendiri dalam waktu yang cepat, maka beton segar dalam pipa dan pompa harus segera dibersihkan. Selanjutnya melaporkan kepada pihak terkait bahwa kerusakan tidak dapat diperbaiki dalam waktu yang singkat dan minta bantuan mekanik pompa beton untuk memperbaikinya.

g. Emergency Stop

Operator harus menggunakan tombol emergency stop bila menghadapi kondisi darurat saat pemompaan beton. Karena tombol ini penting untuk keselamatan kerja maka biasanya tidak hanya dipasang di satu tempat tetapi ada di beberapa tempat untuk memudahkan operator menjang-kaunya bila terjadi keadaan darurat.

Pada contoh model pompa beton ini, tombol emergency stop ada di lima tempat yaitu :

  1. Control panel Desk
  2. Boom control block
  3. Ourigger control block (kiri)
  4. Ourigger control block (kanan)
  5. Radio Remote control atau Cable Remote control

Dengan demikian operator pompa beton dapat menggunakan tombol emergency stop yang terdekat dengan posisinya apabila terjadi keadaan darurat. Setelah keadaan darurat teratasi tombol emergency stop harus dinetralkan kembali.

h. Penghentian pemompaan beton

Setelah volume pengecoran beton segar melalui pemompaan terpenuhi, maka pemompaan dihentikan dengan prosedur sebagai berikut :

  1. Memastikan volume pemompaan sudah hampir terpenuhi (kurang 1 bucket agitator hopper).
  2. Memastikan penuangan beton segar terakhir sudah dilaksanakan.
  3. Melakukan pemompaan terakhir sampai volume pengecoran terpenuhi.
  4. Menghentikan gerakan pemompaan.

Langkah kerja pelaksanaan penghentian operasi pemompaan beton :

  • Pastikan volume beton segar yang dipompa sudah mencukupi kebutuhan lahan yang dicor (berkomunikasi dengan pelaksana pengecoran).
  • Berkomunikasi dengan operator truck mixer untuk menghentikan penuangan beton segar dari truck mixer ke agitator hopper.
  • Hentikan gerakan memompa dengan menetralkan tuas kendali. Pompa beton harus segera dibersihkan dari sisa-sisa beton segar.

Koordinasi Pengecoran Beton Segar

a. Kecepatan pengecoran beton

Aliran beton segar dari pompa beton yang dipompakan ke tempat pengecoran dapat dikendalikan kecepatannya melalui control panel oleh operator, tetapi penghamparannya di lokasi pengecoran kadang-kadang juga mengalami hambatan sehingga beton segar yang dipompa sudah menumpuk belum dapat dihampar.

Untuk menghindari penumpukan beton segar tersebut maka operator beton harus menyesuaikan kecepatan pemompaannya.

b. Koordinasi dengan pelaksana pengecoran

Agar kecepatan pemompaan beton segar dan kecepatan pengham-paran di tempat pengecoran dapat sinkron dan tidak terjadi penumpukan beton segar ditempat pengecoran/penghamparan maka operator pompa beton harus berkoordinasi dengan pelaksana pengecoran.

  • Pelaksana pengecoran segera memberitahukan kepada operator pompa beton bila ada hambatan di lokasi penghamparan beton segar yang menyebabkan menumpuknya beton segar dilokasi pengecoran.
  • Operator pompa beton memperlambat delivery beton dengan mengatur saklar putar berlawanan dengan arah jarum jam untuk mengurangi kecepatan aliran pemompaan beton segar.
  • Pelaksana pengecoran segera memberitahukan kepada operator pompa beton bila terjadi kelambatan pemompaan beton segar dilokasi pengecoran yang menyebabkan kelambatan pengham-paran beton segar.
  • Operator pompa beton mempercepat delivery beton segar dengan mengatur saklar putar searah dengan arah jarum jam untuk mempercepat aliran pemompaan beton segar agar tidak terjadi kelambatan penghamparan beton di lokasi pengecoran beton.

c. Koordinasi dengan operator truck mixer

Agar kecepatan penuangan beton segar dari truck mixer ke agitator hopper sinkron dengan kecepatan pemompaan beton maka operator pompa beton harus berkoordinasi dengan operator truck mixer.

  • Operator pompa beton segera memberitahukan kepada operator truck mixer bila ada terjadi kelambatan pemompaan beton segar dilokasi pengecoran yang menyebabkan kelambatan penghamparan beton segar.
  • Operator truck mixer mempercepat delivery beton segar dengan mengatur menambah putaran drum mixer untuk mempercepat penuangan beton segar ke agitator hopper untuk mempercepat pemompaan agar tidak terjadi kelambatan penghamparan beton di lokasi pengecoran beton dengan tetap memperhatikan kapasitas agitator hopper.
  • Lalu, operator pompa beton segera memberitahukan kepada operator truck mixer bila ada hambatan di lokasi penghamparan beton segar yang menyebabkan menumpuknya beton segar dilokasi pengecoran.
  • Operator truck mixer memperlambat delivery beton segar dengan mengurangi putaran drum mixer untuk memperlambat penuangan beton segar ke agitator hopper memperlambat pemompaan agar tidak terjadi kelambatan penghamparan beton di lokasi pengecoran beton.

Tekanan Beton Segar (concrete pressure)

Pengoperasian pemompaan beton segar akan berjalan dengan efisien apabila kondisi pemompaan dapat memenuhi kemampuan pompa beton yang dipakai. Untuk itu harus diperhatikan keseimbangan antara beberapa faktor yang mempengaruhi pengoperasian pompa beton, yaitu :

1) Diameter jaringan pipa penyalur

Walaupun makin besar diameter pipa penyalur makin rendah tekanan yang diperlukan, tetapi akan membawa dampak lain yang mengikutinya yaitu penambahan tenaga kerja (diameter pipa lebih besar beratnya juga lebih berat), penyangga dan penguat pegangan pipa penyalur harus ditambah sehingga perlu adanya tambahan biaya lagi.

Dalam pelaksanaan pengecoran beton pipa yang optimum dipakai adalah dengan ukuran diameter dalam 5 inch (125 mm), kecuali dalam kondisi yang khusus dapat dipakai 6, 7 atau 8 inch. Sesuai dengan ketentuan American Concrete Institute ACI 304.2R-71 ”Placing Concrete by Pumping Method” direkomendasikan bahwa maksimum ukuran terbesar bahan batu pecah yang dipakai tidak boleh melebihi 1/3 diameter terkecil pipa yang dilewati beton segar.

Dengan demikian bila diameter dalam pipa terkecil 4 inch, maka agregate kasar yang dipakai bahan campuran beton segar adalah dengan ukuran maksimum 11/3 inch atau 32 mm. Bila ada campuran beton segar dengan ukuran agregate kasar melebihi 32 mm akan menyulitkan pemompaan beton.

2) Panjang jalur pipa penyalur

Panjang jalur pipa langsung mempengaruhi tekanan beton yang diperlukan karena adanya gaya gesekan antara beton segar dan dinding dalam pipa penyalur. Itulah sebabnya pipa baja banyak dipakai karena permukaan yang halus pada dinding dalam pipa baja mengurangi gaya gesek dengan beton segar.

Sebaliknya pipa fleksibel mempunyai koefisien gesek yang tinggi, sehingga hanya dipakai pada bagian-bagian tertentu saja untuk mengurangi kerugian tekanan. Mengingat hal tersebut maka panjang jalur pipa penyalur beton segar selalu diusahakan sependek mungkin.

3) Tata letak (lay out) jalur pipa penyalur

Lay out pipa penyalur mempengaruhi tekanan yang diperlukan oleh beton segar untuk bisa dipompa dengan lancar. Bila terjadi perubahan arah jalur pipa maka akan terjadi penambahan tahanan (resistance) terhadap gerakan beton segar.

Agar diperoleh nilai tahanan (resistance) pipa yang kecil harus diusahakan agar jumlah pipa bengkok yang dipakai sekecil mungkin. Reducer pipa (perubahan diameter dalam pipa dari diameter yang lebih besar ke diameter yang lebih kecil juga akan menambah nilai tahanan pipa.

4) Slump beton segar

Dalam keadaan normal slump beton segar bervariasi dari truck mixer yang satu ke yang berikutnya menurut toleransi design mix, mesin pemecah batu dan penyaringnya (crushing and screening plant) serta mesin penimbang dan pencampur beton (concrete batching plant).

Untuk pemompaan beton toleransinya lebih diperketat lagi agar pemompaan beton segar dapat berjalan dengan lancar. Menurut ACI 304 slump beton segar yang dianjurkan adalah 2 sampai 6 inch (50 sampai 150 mm).

5) Estimasi tekanan beton yang diperlukan untuk pemompaan

Bila pemompaan beton berhenti, maka untuk memulai lagi diperlukan tekanan beton yang lebih besar lagi. Untuk mengestimasi besarnya tekanan beton yang diperlukan kita dapat menggunakan Grafik ”Concrete Pump Performance Estimator”.

Koordinasi Dengan Teknisi Laboratorium

Spesifikasi mutu beton yang bisa dipompa

Tidak semua jenis beton segar dapat dipompa dengan pompa beton, ada beberapa hal yang mempengaruhi sehingga beton segar dapat dipompa (pumpable concrete) antara lain :

1) Kandungan semen

Jumlah semen yang terkandung didalam campuran beton segar akan berpengaruh pada pumpability beton segar. Makin tinggi prosentase kandungan semen makin mudah campuran beton segar dapat dipompa.

Jumlah kandungan semen dalam campuran beton juga menun-jukkan mutu dari beton tersebut. Makin tinggi prosentase kandungan semen makin tinggi pula mutu beton tersebut. Di Indonesia mutu beton yang dapat dipompa adalah beton dengan mutu K225 keatas.

2) Ukuran batu pecah

Diameter dalam pipa penyalur beton yang biasa dipakai dalam pemompaan beton segar adalah 4” (100 mm) atau 5” (125 mm). Agar campuran beton segar dapat dengan mudah melewati pipa penyalur beton maka ukuran batu pecah yang terkandung dalam campuran beton segar harus lebih kecil dari diameter dalam pipa penyalur beton. Ukuran batu pecah yang terbesar harus lebih kecil dari ⅓ diameter terkecil pipa yang dilewatii.

3) Slump

Slump adalah salah satu variabel beton segar yang menunjukkan consistency atau fluidity, yaitu tingkat keenceran. Campuran yang encer lebih mudah dipompa dari pada campuran yang kental. Campuran beton dengan slump 10 – 14cm dapat dipompa dengan pompa beton.

4) Aditive

Aditive atau sering juga disebut admixture adalah material yang ditambahkan pada campuran beton segar yang dapat merubah sifat semula. Jenis Aditive yang dapat memperbaiki sifat untuk mudah dipompa adalah jenis water reducer dan retarder.

Petugas yang menangani mutu beton (quality control) di proyek adalah teknisi laboratorium dimana mutu beton, ukuran batu pecah, slump dan additive dapat diketahui dengan baik oleh petugas tersebut. Oleh karena itu operator pompa beton harus selalu berkoordinasi dengan petugas.

Pelumasan Pipa Penyalur Beton

a. Prosedur Pelumasan Pipa Penyalur Beton

  1. Pastikan pipa sudah terpasang sesuai prosedur.
  2. Siapkan mortar untuk pelumasan awal (priming pipa penyalur beton sesuai dengan panjang jalur pipa.
  3. Aktifkan agitator hopper lalu tuangkan mortar kedalam agitator hopper.
  4. Operasikan pompa beton dengan tuas kendali pumping pada delivery 20-30 m3/jam.
  5. Pastikan mortar yang dipompa sudah sampai ujung selang fleksibel.

b. Pengoperasian Agitator Hopper

  1. Pastikan pompa hidrolik untuk agitator sudah dipanaskan sesuai prosedur.
  2. Atur putaran engine pada putaran kerja.
  3. Aktifkan putaran blade agitator kearah beton segar masuk dengan menekan kekanan tuas kendali agitator.

c. Pengoperasian piston pompa beton

  1. Pastikan pompa hidrolik untuk pompa betonr sudah dipanaskan sesuai prosedur.
  2. Atur putaran engine pada putaran kerja.
  3. Aktifkan gerakan piston pompa beton dengan menekan kekanan tuas kendali

d. Pembuatan campuran air, semen dan pasir (mortar)

  1. Menyiapkan mortar untuk pelumasan pipa penyalur beton sesuai dengan panjang pipa penyalur yang akan dilumasi (25 kg semen untuk 10 meter panjang pipa).
  2. Campuran mortar diaduk dan disiapkan untuk dimasukkan hopper guna dipompakan ke pipa penyalur beton sebagai pelumasan.

e. Pelaksanaan pelumasan pipa penyalur beton

  1. Memastikan agitator dan pompa sudah dijalankan sesuai prosedur.
  2. Menuangkan mortar kedalam agitator sesuai dengan kapasitas agitator.
  3. Mengatur delivery pump out 20-30 m3/jam dengan memutar saklar
  4. Meneruskan pemompaaan sampai mortar yang disiapkan habis terpompa.

Posisi Pipa fleksibel

a. Penampungan mortar

  1. Mortar untuk pelumasan pipa bukan material konstruksi jadi harus dibuang diluar daerah pengecoran.
  2. Alat penampung mortar dengan jumlah yang mencukupi disiapkan untuk menampung mortar pelumas yang keluar dari fleksibel hose.

b. Pengarahan pipa fleksibel

  1. Pipa fleksibel pembuang mortar diarahkan ke alat penampung.
  2. Mortar yang dipompakan kedalam pipa penyalur dan keluar diujung selang fleksibel ditumpahkan kedalam alat penampung untuk selanjutnya dibuang di tempat yang ditentukan.

c. Komunikasi dan koordinasi

Selama kegiatan pelumasan pipa penyalur beton dengan mortar, operator harus selalu berkoordinasi dengan pelaksana pengecoran beton segar agar pekerjaan berjalan dengan baik dan tidak timbul mis-komunikasi.

Kesimpulan

Dengan mengikuti prosedur pelaksanaan pengecoran menggunakan Concrete Pump secara teliti, Anda dapat memastikan keberhasilan proyek konstruksi Anda. Concrete Pump tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan hasil yang presisi dan berkualitas.

Pastikan untuk selalu mengikuti standar keselamatan dan panduan produsen selama seluruh proses pengecoran untuk mencapai hasil terbaik. Hubungi WhatsApp Kami jika Anda ingin menyewa pompa beton.

 

Baca juga : Harga Sewa Pompa Beton Concrete Pump

 

Tags: ,

Bagikan ke

Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Komentar

Belum ada komentar, jadilah yang pertama memberikan komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Prosedur Pelaksanaan Pengecoran Menggunakan Concrete Pump

Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Rahmat
● online
Idris
● online
Rahmat
● online
Halo, perkenalkan saya Rahmat
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja